Oleh :HH. Imam.
Bila mentari berterik, jangan halang kami untuk melangkah, melangkah menuju ke tempat yang kami mau, karena kami sekarang tau memilih, mana yang baik, mana yang buruk, menurut kami, bukan menurut lainnya. Boleh jadi, baik untuk lainnya tapi tidak berkenan di hati kami.
Begitulah coretan di dinding kamar, aku sudah dewasa, usai sudah saat-saat kita dituntun sepenuhnya, sepanjang hari untuk menjalani kehidupan.
Rabu pagi ini, tidak ada ada jam kuliah pagi, seperti biasa aku duduk di kantin menikmati hangatnya mentari dan kepulan panas segelas kopi bersama teman-teman. Tak dapat dipungkiri, berbagai pembicaraan kita bicarakan, kita diskusikan, namun kebanyakan diperdebatkan.
“Kita jangan diam saja, kita harus bertindak. Kita ini bukan anak SMA lagi, yang hanya menuruti perintah Guru, mengangguk-ngangguk saja, meskipun merugikan. Kita sebagai Agent of Change, sebagai pemuda Indonesia, sebagai aktivis muda, harus bertindak, agar mereka tidak tenang-tenang.” Kata temanku dengan mengebu-gebu lantaran kemarin dia mendengar isu tidak baik tentang atasan kita dari para aktivis kampus.
Ah, aneh sekali. Banyak masalah di dunia ini, bukan diselesaikan secara damai, tapi diselesaikan dengan amarah yang berkobar. Tidak hanya hal yang rumit saja sepertinya, hal yang sepele pun di perpanjang sepanjang Tembok Besar yang ada di Tiongkok sana. Great Wall kalau katanya orang bule.
Pembicaraan di kantin itu berjalan dengan seru, argumen-argumen disampaikan oleh semua yang duduk semeja denganku bak rapat Musyawarah Besar, bagaimana dengan aku? Aku hanya diam, mendengarkan, karena aku tak tau apa-apa, tidak tau menau lebih tepatnya, dan lebih tepatnya lagi kurang tau.
***
“Masuk kelas sajalah, sudah jam 13.20.” ajakku pada teman di sisi meja.
“Jam segini, panas sekali ruangan, AC hanya sebagai pajangan saja. Biasanya kebanyakan lembaga sekarang, banyak menawarkan fasilitas-fasilitas yang mewah. Wi-Fi misalnya, tapi pada kenyataannya, aktifnya pada malam hari, atau siang hari, setiap pagi tapi bukan untuk semua, hanya untuk kalangan tertentu saja.” Gerutuku dalam hati saat tiba di dalam kelas. Setelah merenung ke segala arah dan segala masalah yang bermunculan di kepala tiba-tiba...
“Assalamualaikum.”
Tesentak, lamunanku hilang, tentang fasilitas tadi.
“Dosen ini lagi?” Gumamku.
“Lho, mau siapa lagi? Ya, kita siap-siap saja.” Jawab temanku. Ternyata gumamku terdengar oleh dia. Padahal aku tak butuh jawaban, semakin dijawab sepertinya semakin merasa bosan.
Akhirnya pembelajaran itu dimulai, seperti biasa, dosen itu yang mempunyai nama lengkap pak mursyidi berceramah panjang lebar tentang apa yang telah diajarkan minggu lalu. “Memahami kembali materi minggu lalu, bukankah itu tanggung jawab kita, lantas kita di anggap masih belum dewasa untuk mengemban tugas itu, jika tidak ingin di katakan belum memahami materi tersebut, apakah kita masih belum pantas menyandang gelar “Mahasiswa”? Kesalku dalam hati memulai.
Mata kuliah yang di terangkan kali ini tentang Etika, sepertinya ini menarik untuk didengarkan meski agak membosankan, tapi akhirnya sebentar lagi pertanyaan minggu lalu akan muncul lagi, pertanyaan yang membuat jenuh orang-orang di kelas, kecuali pak mursyidi tentunya. Mana ada yang jawab, wong materinya saja tidak ada pendahuluan, tiba-tiba ada pertanyaan.
“Apa itu Etika?” Tanyanya, setelah dia menulis di papan tulis putih.
“Etika itu Moral, Pak.”
“Asusila, Pak.”
“Anuu.. Akhlak, Pak.”
“Tingkah laku.”
Teman-teman saling sahut-menyahut, entah apa yang ada di benak mereka, yang mereka sebutkan tadi definisi Etika, apa kawan-kawannya Etika? Belum selesai pertanyaan terjawab tuntas, pak mursyidi sudah memberikan pertanyaan lagi.
“Lalu pertanyaan selanjutnya, beda atau tidak, antara kata-kata yang disebut tadi? Kalau ada apa bedanya, kalau tidak ada mengapa masih beda kata? Kalau cuma ada satu saja, maklum, sinonim namanya, tapi kalau banyak seperti itu, apa itu sinonim?” Tanya dosen itu lagi.
“Arrrggghhh pusiiing.” Teriakku.
Sontak, semua orang tertuju padaku, semua kaget, semua heran, ada apa denganku, bukankah dari tadi aku hanya memandang gedung sebelah, gedung A, yang mana di belakangnya bekas ruangan tempat orang yang berkelana di dunia seni, mereka sebut “sanggar” entah apa definisinya sanggar itu, lho kok lagi-lagi aku memikirkan definisi.
“Kamu kenapa?” tegur pak mursyidi bersungut-sungut.
“oh, maaf pak, silahkan di teruskan” tukasku pada mursyidi.
Setelah reda sejenak ketegangan di kelas, Pak mursyidi kembali meneruskan penjelasan, dengan seribu penalaran, dan berangkai-rangkai pemaparan. Tapi tak lepas dari pertanyaan yang harus dijawab, entah salah atau benar.
“Kalau Etika itu adalah Nilai, maka pertanyaan selanjutnya adalah Apa itu nilai? Kalau Etika itu tolak ukurnya Rasio, maka pertanyaan selanjutnya apa itu Rasio?” katanya yang aku dengar setelah dia mempertanyakan kembali pertanyaannya.
Semakin gerah aku rasakan, AC tidak berfungsi, otakku ikut-ikutan, tidak bisa menjangkau apa yang telah dijelaskan olehnya, lalu selanjutnya, apa aku harus keluar, karena tidak mengerti? Atau aku tetap duduk disini, di pojok, memandang bekas sanggar demi menghormati dosen? Atau aku mengangkat tangan dan berkata kalau saya tidak mengerti? Lagi-lagi saya diserang oleh banyak pertanyaan tentang aku, tentang aku yang tidak mengerti mata kuliah kali ini. Kali ini? Sebenarnya berkali-berkali, setiap Dosen ini aku tak pernah mengerti. Kata orang-orang yang belajar filsafat, kalau ada mahasiswa masuk kelas, mengikuti mata kuliah dan tidak menghiraukan absen, berarti orang itu penganut Idealis. Aku, bagaimana dengan aku? Penganut apa aku, yang masuk cuma demi absensi, dan sepertinya itu bukan hanya aku. Tidak masuk tapi di absensi tertanda-tangani adalah kesukaanku, titip absen namanya. Tidak bisa dipungkiri itu adalah kebiasaan yang sudah biasa, yah yang namanya kebiasaan berarti sudah biasa.
Namun, jangan pernah meremehkan, meski malas kuliah, tapi aku masih bisa menandingi orang yang rajin kuliah, yang hanya duduk manis semanis gula jawa katakanlah, lalu beranjak meninggalkan kelas membawa pikiran yang absurd. Rajin masuk kuliah dan manut saja kepada yang di depan, yang berfikir bahwa keterangan dosen adalah benar adalah orang yang tidak mau melawan arus. Padahal kata aktivis muda zaman dulu, misal, Ahmad Wahib mengatakan, pertama dosen bukanlah tuhan dan jangan pernah sekali-kali mempertuhankan dosen. Kedua, malas kuliah tapi tidak malas dalam membaca, tidak malas membuat posisi lingkaran dan membahas sesuatu, yaitu berdiskusi adalah subtansi seorang mahasiswa. Dua statement tersebut selalu tertancap dalam paradigmaku kini.
“Lalu pertanyaan selanjutnya, dimana letak perbedaan salah dan benar, baik dan buruk?”
“Dan, apa yang menilai baik dan buruk, apa yang menilai salah dan benar?”
“Juga, seperti apa yang dikatakan baik dan benar, seperti apa yang dikatakan salah dan buruk?” Katanya, di tengah penjelasan, juga di tengah-tengah nalarku yang kemana-mana, berusaha menjawab pertanyaan itu, tapi malah menambah pertanyaan lagi.
“Lalu, pertanyaan selanjutnya, yang benar bagaimana? Masuk kuliah rajin dan meyakini, bahwa keterangan dosen benar, atau tidak masuk kelas tapi sibuk membaca di perpustakaan? Atau dua-duanya?” Pikirku tentang masuk dan tidaknya mahasiswa, meniru gaya pertanyaan dari Dosen.
Pelajaran sudah usai, aku bergegas keluar, karena di dalam gerah, teman-teman pada sibuk mencari jawaban yang di lontarkan oleh dosen, yang katanya untuk materi minggu depan.
***
Sesampainya dirumah, ada berita di televisi menyebut beberapa mahasiswa membuat kerusuhan di depan gedung Rektorat. “Ada apa mereka? Mengapa mereka? Untuk apa mereka disana?” Seribu pertanyaanpun muncul menyergapku.
“Ada yang korupsi.” Kata salah satu mahasiswa saat di wawancarai.
“Ada yang menyelewengkan dana pembangunan.” Terang yang lain.
“Disini ada yang menggunakan uang kampus demi keperluan pribadi.” Kata orator disana.
Lalu mengapa mereka merusak fasilitas yang ada?
***
Lalu pertanyaan selanjutnya.
Kalau mereka berjuang demi kepentingan umat, mengapa mereka menggunakan kekerasan?
Kalau mereka berjuang atas hak umat, mengapa mereka melakukan kerusuhan?
Kalau mereka menuntut akan kesejahteraan, mengapa bukan jalan damai yang mereka gunakan?
Ah, sepertinya aku mengikuti dosenku tadi, selalu bertanya setiap ada sesuatu.
Tapi, sesungguhnya lebih seribu pertanyaan yang ada di setiap kejadian yang kita lewati. Lalu, diam-diam akupun terpulas dengan lamunanku di iringi lagunya Iwan Fals yang berjudul “Lonteku”.
Sekian
Tabloid Buletin Al-Jadid Edisi V
0 komentar:
Posting Komentar