Aku

Han, Lelaki di semua masa dan peristiwa Erlita

Thank's

Terima Kasih atas kunjungannya, salam Kenal! :)

Ah, Semoga Kembali Berkisah


Doc. Internet
Lama sekali aku tak berkisah, bercerita tentang apa saja, tentang siapa saja, cerita dari orang lain, cerita dari diri sendiri, setelah lama aku berusaha untuk kembali naik keluar dari lubang yang sangat dalam, terjatuh setelah mengejar target yang kecil. Aku buka kitab-kitab tata cara berkisah, bercerita yang baik. Tiba-tiba saja aku kembali ke peristiwa dulu, ketika berdarah-darah dalam berkisah. Sungguh ini harus selesai dalam berkisah, kalaupun nanti aku dihadapkan dengan lubang yang lebih dalam, ataupun selebar jurang, setidaknya aku diam sejenak atau berusaha untuk loncat sekuat tenaga, atau membuat jembatan untuk melewati itu. Aku yakin Tuhan bersamaku, hanya aku yang kadang tak menyadarinya, menyerah rela masuk ke dalam lubang yang ternyata sangat dalam.

Bicara waktu, yang memang benar-benar misterius tak bisa dipungkiri kenyamanan memang membuat kita lupa akan perjuangan, tentunya akan banyak tantangan yang lebih berat, mulai dari Sosmed yang merengek-rengek minta diutak atik, atau orang-orang dekat yang ngajak ngopi demi menghilangkan stres,  bisa jadi tugas yang tiba-tiba nangis karena belum selesai, itu semua aku sebut halangan dalam berkisah, ya, begitulah rutinitas yang kadang menjadi alibi belaka, demi kenyamanan diri dalam sulitnya berjuang.

Bicara berkisah, aku jadi ingat Erlita, yang lama tak aku temui, kurang dari satu tahun aku tak menemuinya. Ah, aku tak mau seperti Walmiki yang di protes oleh aktornya dalam Novel Kitab Omong Kosong-nya Seno Gumira Ajidarma. Bayangkan dari sekian tokoh dalam Ramayana, mengganggu perjalanan Walmiki yang berkelana dari negeri satu ke negeri lainnya. Dari tokoh yang karenanya tokoh itu tersiksa sampai tokoh yang hanya muncul sekejap, pun ada yang tak tentu nasibnya. Maklum, cerita yang ditulis Walmiki banyak versi ketika ditangan pendongeng lain.  Tokoh yang sebenarnya mati, tapi dihidupkan oleh pendongeng lain, ah, aku tak ingin perempuan anggunku protes kepadaku akibat aku tinggalkan selama ini.

Tapi aku masih bingung akan berkisah apa, akan aku bawa kemana Erlita berkelana? Sangat perlu sepertinya aku mengobrak-abrik rak buku yang ada di dekatku ini, meski bukan milikku semua, aku tak peduli itu. Oke, Bongkar! Ah, Filsafat, Politik, Sosiologi, Novel, Kisah Sahabat Nabi. Mana yang akan aku pakai ini? Apa aku gabung semua, tapi Erlita pasti bingung atau aku yang bingung meng-kolaborasi semua buku-buku ini, apalagi pasti ada lain pemikiran dan pendapat tentang apapun. Plato dan aristoteles saja yang kedudukannya guru dan murid berbeda pendapat antara idelis dan realitas, apalagi yang lain yang tak bertemu dalam satu zaman.

Ah, sudahlah. Tulisan ini saja berjalan apa adanya, mungkin nanti cerita Erlita akan berjalan apa adanya juga. Toh seiring waktu bagaimanapun caranya, karena hidup ini punya target pasti pengetahuanku bertambah, ya, itu modal untuk bercerita bersama Erlita.

“Keluar!”

Hah?! Ada yang ketok pintu kamarku. Siapa? Suaranya perempuan? Bagaimana mungkin ada teman yang main pagi-pagi begini? Erlita? Ah, mana mungkin dia tahu kos-ku yang baru, dia tahunya kontrakanku yang dulu.

“Siapa?!”

“Hah? Siapa Perempuan yang kau janjikan untuk berkelana, setelah namaku kau jadikan nama samaran dalam cerita pendekmu itu!”

“Erlita?”

“Apa ada perempuan lain, selain nama itu?”

Aku menggeleng, tapi pasti dia tak tahu kalau aku menggeleng.

“Cepat, keluar!”

“Iya, tunggu.”

“Tunggu apa lagi?”

“Aku akan mengajakmu berkisah.”

“Bohong! Buktinya kau tinggalkan aku begitu lama, aku mencari-cari kau, kemana-mana ternyata kau pindah tak bilang-bilang, apa maksudmu? Hah?”

Ah, malas aku mendengarnya, sudah kuduga, semangat berkisah ini pasti ada saja halangannya, termasuk protes dari tokohnya. Aku harus memutuskan kisahku ini.

Dunia Shopie? Ah, apa mungkin Erlita bisa berkelana seperti Shopie dalam novel yang ditulis Jostein Gaarder itu? Dengan pertanyaan pertanyaan filsafat dan jawaban yang teteap menimbulkan pertanyaan, meski dalam penjelasan sederhana, ah seperti Maneka dan Satya dalam Novel Omong kosong itu berarti. Perjalan menemukan lima kitab dengan pertanyaan yang sebenarnya merujuk pada filsafat, bicara dunia dan manusianya. Ah, janganlah!

“Cepat!”

“Iya tunggu, Erlita!” Jawabku geram.

Sosiologi? Apa mungkin? Sepertinya enak juga, nantinya dia bisa tau macam masyarakat, masyarakat dalam bertindak, masyarakat dari zaman ke zaman, setumpukan teori setumpukan pemikiran para sosiolog yang nantinya tahu filsafat juga.

“Kau sedang apa?”

“Bersiap-siap berkisah. Aku tuntaskan janjiku!”

“Masalahnya aku tak percaya, sebelum aku masuk dan melihat wajahmu!”

“Ah, Tunggulah! Diam disana! Sebentar lagi!”

Kalau sosiologi, pasti dia akan bertemu dengan Karl Marx, oh, bisa saja aku titip pertanyaan kepada Erlita, tentang Kelas yang tak sempat terdiefinisakan olehnya. Mungkin saja Erlita mendapat penjelasan itu. Atau bertemu dengan Michel Foucault bisa menagih penjelasannya tentang Kegilaan dan Masyarakat lalu apa mungkin Foucault dalam keadaan gila hingga bisa memunculkan pemikiran yang seperti itu. Atau bertanya tentang kedai kopi dalam buku Ruang Publiknya Jurgen Habermas. Ah, Erlita akan berkelana ke negeri-negeri yang penuh dengan cendekia dan filosof. Ah, iya lupa, bisa kirim salam kepada Pieree Bodeiu karena aku langsung paham masalah Modal, habitus dan ranahnya. Tak seperti Marx tentang kelasnya itu.

Tapi apa dia tidak tambah protes tentang perjalanan yang belum tentu menyenangkan. Jangan pikirkan itu dulu.

Buku Media? Ah, apa mungkin aku bawa Erilita menjadi repoter, menjadi wartawan atau pembaca berita, sepertinya banyak media yang di ‘setir’ pemerintah sekarang, atau media yang suka menyebarkan ‘virus ganas’. So Black list.

Atau aku bawa dia menjelajahi kisah-kisah yang ada Novel-novel, entah yang ditulis oleh orang Indonesia atau orang luar negeri atau bahkan yang ditulis temanku sendiri? Pasti dia pulang dari jelajah nanti berdarah-darah dalam percintaan, atau kehidupan, atau tambah bijak dalam bersikap.

Aku tak tahu akan aku bawa kemana Erlita.

“Lama sekali kau!”

“Sudah selesai!”

“Yakin?”

Lalu kubuka pintu kos-ku. “Silahkan baca tulisanku itu,” sambil menunjuk ke laptop yang sedang menyala.

Sepertinya Erlita semakin anggun, dengan Rok yang padu dengan bajunya, dan kerudung dengan model yang sama seperti dulu, selalu membuatku ingin menarik kerudungnya.

“Kenapa kau tertegun?”

“Ah, tidak... ada yang lain darimu”

“Apa?”

“Sudahlah, mari masuk! Nanti ada Pak Kos, tak enak sendiri.”

“Sudah, aku sudah bilang ke Pak Kos, bahkan kalau perlu aku bisa menginap disini tidur denganmu.”

“Hah?”

“Tak usah heran, Satya dan Maneka saja biasa saja, dia tidur berdua, kan? Berpelukan juga, meski diantara mereka tak ada pernyataan cinta, hanya siakap diantara mereka yang melukiskan itu. Tak pernah ada pembahasan”

“Hah? Kamu tahu Novel itu dari mana?”

“Dulu saat kau tidur, aku pamit masuk ke kamarmu, saat itu ada temenmu yang rambutnya panjang itu. Aku Cuma ingin baca novel yang selalu kau bawa itu”

Ah, dasar perempuan, memang jarang perempuan yang tak membuat lelaki terkejut.

“Sudahlah, aku ingin masuk dan membaca tulisanmu yang membuatku menunggu itu”

“Ya, silahkan.”

“Kenapa dengan rak buku dan buku-bukumu?”

“Sudah, bacalah tulisannya!”

“Ya, maaf!”

ROK

ROK!
Ini bukan tentang macam-macam rok dan yang lainnya tapi ini adalah tentang Rok di lingkungan kecil yang melahirkan aktivis handal dan aktivis yang suka pakai sandal.
Rok sangat unik disana, pastinya rok panjang, entah rok yang lipat, yang lingkar, ataupun maxi yang penting rok. Seperti sebuah Negara, lingkungan ini punya peraturan tentang rok, orang desa bisa jadi meniru peraturan ini.
Kalau ada lelaki yang suka melihat wanita menggunakan rok, jika lelaki itu ada dilingkungan ini, nggak perlu pusing, tanyalah dimana Perputakaan Kampus. Meskipun disekitar kampus masih ada yang menggunakan rok, tapi sangat jarang.
Ya, ruang kecil perpustakaan mempunyai peraturan lain dari kampus, jadi wanita yang suka pakai celana, biar terlihat lebih cantik dan anggun, terpaksa membawa dua pakaian bawah, celana dan rok. Di depan perpustakaan ada pohon yang bisa jadi tempat salin, lebih tepatnya menambah, atau menyusun, atau apalah yang penting bukan mengganti.
Asli peraturan ini akan berubah ketika ada orang Kristen masuk ke dalam kampus, Pasalnya kampus ini sudah naik peringkat, tapi masih dengan rasa yang sama seperti sebelumnya heuheuheu…
Jadi maksud saya, orang desa bisa meniru peraturan ini, orang kota yang sebagian besar kalau datang ke desa bisa berubah peraturan, harus pakai sandal, atau harus pakai sarung.
Sangat mengerti kalau tujuan itu mungkin untuk memadankan, agar yang wanita beda dengan yang lelaki, jadi kalau tidak kelihatan berkerudung ya langsung lihat dibawahnya ber’rok’ apa tidak. Heuheuheu
Tapi, eh ada tapinya, kalau perpustakaan memerhatikan pengunjung yang datang, seperti indoapril alfamei, akan menghapus peraturan itu, soalnya ada kendala di ‘rok’ tadi.
Wanita takut dibuka roknya ketika sepi, apalagi waktu bingung mencari buku, pasalnya bukunya tidak tepat pada urutan nomernya, ini bahaya!
Kedua bisa jadi pindah ke Perpustakaan daerah, pasalnya disana lebih banyak dan lebih enak, pastinya. Ini bahaya juga!
Untung jua sih bagi yang Mahasiswa sedang berbisnis Pakaian lewat Online, jadi mereka tahu rok apa yang sedang diminati. Heuheuheu

*maaf kalau ada yang salah, tulisan ini mengalir saja ketika ada mahasiswa semester dua mengeluh karena rok.

Menggoreng Ide

--
Entah apa yang aku tulis hari ini, karena aku masih bingung dengan ide, ah katanya ide ada dimana-mana. oy... itu benar, benar sekali. tapi bagaimana cara menggoreng ide menjadi lezat seperti telur yang sudah di goreng. ide yang ada dimana-mana itu masih mentah, tidak ada yang matang, bagaimana cara meracik ide hingga menjadi makanan favorit di restoran elit.

oh.. hari ini hanya ini yang aku tulis, di akhir bulan Agustus...!

Sekelumat Catatan

Gores pipih di dinding.
Rapi seragam Pak Bos pagi hari.
Pulang dengan ciuman si Istri.
Kumuh debu terbang hinggap di topi.
Lusuh kaos Pak Bambang.
Pulang dari pasar, jualan tak terjual.
Pulas si anak dengan selimut sarung.
Menunggu gerimis dan petir.
Biar nasib susah menjadi sungguh.
Biar yakin kalau roda masih berputar.
Biar benar kita dianggap oleh tuhan, oh!

Lama Tak Bersua, Ya.

Sudah lama tak bersua (?)
Ya, yang aku maksud adalah bertemu di Media Sosial.
Ya, yang aku maksud lama hanyalah tiga hari.
Ya, yang aku maksud sudah, berakhir.
Ya, karena aku tak ingin berlama-lama.
Ya, karena aku masih berjanji.
Ya, janji untuk bersua.
Ya, itu masih lama.
Ya, pada akhirnya sudah.
Ya, sudah bersua maksudnya.
Ya, sudah berarti sudah berlalu.
Ya, pada akhirnya, aku mengatakan.
Akhirnya kita bersua.
Ya, kita sudah bersua, itu yang aku maksud akhirnya.
Ya, Kamu dan aku boleh juga kamu denga orang lain, itu yang aku maksud kita
Ya, saling memandang belum tentu berjabat tangan, itu yang aku maksud Bersua
Ya, akhirnya aku mengatakan
Lama tidak bersua.
Ya, Lama, karena kita lama bersua kembali.
Ya, tidak saling memandang yang aku maksud tidak bersua.
Ya, akhirnya aku mengatakan
Semoga kita bertemu di lain waktu.
dan sikap yang pada akhirnya
Ya, Pasrah :)

Sebenarnya

Sebenarnya aku ingin merangakai kata, tapi apalah daya kata yang kurangkai tak seperti dalam rangkaian yang benar, yang sudah disusun, maka aku berusaha untuk menulis cerita saja!
Ini cerita dari seorang yang ingin menjadi penulis.
Lalu banyak pertanyaan untuk meraih itu, sebelumnya dia hanya mengikuti penulis lain, yang disebut penulis oleh semua masyarakat.
Satu, dia bingung, siapa yang disebut penulis, toh dari kecil kita penulis, apakah penulis adalah orang yang suka menulis. Kalau iya, maka dia ditabrakan oleh kata-kata yang begini isinya, kalau kita ingin bisa maka sukai dulu itu, anak SD agar bisa menulis harus suka dulu donk. Nah karena itu dia terus menulis agar tahu siapa yang disebut penulis.
Dua, dia bingung kalau menjadi penulis, apa yang dia kerjakan sebagai profesi? Menulis? Apa menulis merupakan profesi? Kalau iya lagi-lagi dia ditabrakkan oleh argumen yang begini, jadilah penulis yang benar-benar penulis, bukan penulis yang seterusnya menarget uang. Oh No!
Ketiga dan seterusnya, masih bingung, maka dia menulis sebuah kebingungannya, dan dia terus menulis apa yang dia tulis sampai menemukan jawabannya. Dan inilah yang dihasilkan dia. Sebuah tulisan yang berusaha untuk menemukan tulisannya dan jawaban dari pertanyaannya.

Cerita yang agak rumit.



Ya.. cerita ini agak rumit serumit yang merangkai kata, serumit orang yang menyuruhmu membaca.
Cerita ini agak rumit, lebih rumit daripada KPK yang menangani Koruptor, lebih rumit daripada Koruptor yang menyembunyikan uang curiannya.
Ini cerita sekali lagi saya sampaikan kalau cerita ini agak rumit. Tapi rumit masih kalah dengan agak rumit, bagaimana bisa? Karena ini lebih rumit dari KPK yang menangani Koruptor, lebih rumit kan? Kalau lebih rumit aja disebut agak rumit, berarti agak rumit lebih rumit daripada rumit. Rumit kan?
Makanya jangan merumitkan dari jadi tidak merumitkan orang.
Rumit ini seorang yang benar-benar rumit dengan kerumitannya sampai-sampai kerumitannya merumitkan orang lain, dan menyebabkan kerumitan yang lebih rumit yang disebut agak rumit.
Agak rumit terlalu setia denagn agaknya jadi rumit memisahkan diri dari agak rumit, rumit mencari pasangan, maka ditemukanlah kerumitan, nah kerumitan selalu merumitkan semua rumit hingga agak rumit saja ikut rumit. Jadilah kerumitan yang sangat rumit, bukan agak lagi.
Sekian Kerumitan yang rumit sampaikan.
Salam Rumit!




Aku Pendengar Setia

Haha.. ini hanya tulisan biasa-biasa saja.
Aku pendengar setia, ya aku adalah pendengar setia, dengan berbagai cerita dari teman dan sahabatku.
Oke kita mulai bercerita.
Semua nama kita samrkan, namun biar yang disamarkan merasa ketika membaca maka saya tidak samarkan ciri-cirinya :D
untuk yang merasa Maaf ya... Hahaha
Bila tidak berkenan SMS saja. Oke :p

Okee.. kita mulai.

dari SMP hingga SMA aku menyandang Predikat itu.
tapi aku tidak akan bercerita masa itu, aku akan bercerita Masa-masa sekarang saja!
kebanyakan cerita ini, adalah cerita orang galau karena CINTA. Cinta Oh Cinta  haha :D

Pertama, sebut saja Dammahum. dia terkenal di kelas dengan senang belajar filsafatnya. entah mengapa tiba-tiba dia bercerita ketika aku bermain ke kost-annya. mulai dari pertanyaan yang secaera tidak langsung merupakan awalan dari Curhat. karena aku udah mengerti maksudnya, jadi aku ladenin, yah, dari dulu aku selalu heran, orang sedang galau karena cinta bercerita dan minta solusi kepada orang yang tidak pernah pacaran [?] nah orang yang satu ini memang selalu bareng kalau pulang dari kampus, dia bercerita tentang cintanya yang putus nyambung, dan akhirnya PUTUS (Miris) :(
Nah, ketika bercerita, temanya itu mau balikan. solusi penuh solusi dari seorang yang ngjomblo :D dengan nada meyakinkan dan argument tanpa refrensi nyatapun dikeluarkan. Hahaha... ya iya itu aku, aku hanya memberi jalan tanpa refransi nyataku, tapi kenyataan yang dialami teman-teman yang lain, maklum, banyak kisah yang aku dapatkan dari teman-teman Barokah sebagai Pendengar Setia :D
dan hasilnya Yeay... Berhasil.....!!!

Lanjuuutttt.... yang kedua ini, juga temenku, kalau dia sih, cerita-ceritanya waktu dekat sama aku, tapi pacarannya sudah lama, yang satu ini adalah foto kopiannya Mario Teguh, sangat bijak dalam memberi Jalan, nah, itu akibatnya dia mendapatkan Pacar di Kelas, hahaha
sebut saja, Bungkul.
Nah, si bungkul ini, galau karena antara dia dan ceweknya bertolak belakang. diantaranya -hal kecil- ceweknya gag suka Vespa, dia Suka Vespa.
nah, dia bercerita kelanjutan dengan pacarnya yang absurd hubungannya, agak jarang komunikasi, dan lagi-lagi dengan lagak sok berpengalaman, si pendengar setiapun memberikan solusi jalan, tapi keputusan tetap berada di otak si bungkul.
juga dia bercerita tentang profesi sebagai Konsultan bagi temen-temennya, yang mana solusinya sering disangkal dan diapun tidak bisa menjawab, akupun mencoba memberi jalan dan dia menyetujui. Yeay... aku dapat pasien satu lagi... :D


Bukan, Bukan Aku!

Menatap Potretmu adalah jalan pintas ketika aku merindukanmu, rindu ingin bertemu denganmu, walaupun aku mengerti sulit aku bertemu denganmuaku tak dapat membunuh rindu itu. ya, bukan, bukan aku yang kau harap, memang! aku mengerti itu. dari itu aku hanya menatap potretmu saja.

Bukan, Bukan aku, yang kamu harap, karena kita sudah lama tidak bertemu, sudah lama tidak bercanda dan tertatwa bersama, meski kau sering mengejekku dari berbagai sudut. pertemuan kita bagai pertemuan yang tidak diinginkan lagi, ya itu dulu, sekarang... aku berharap bertemu denganmu, lama sekali aku tak menatap wajahmu.

Bukan, Bukan aku! Teman baikmu, aku hanya teman pelengkap saja, ada ketika dibutuhkan, itu saja! akupun selalu mencari pembenaran kalau teman yang baik, adalah teman yang selalu ada saat dibutuhkan, ternyata itu tidak selamanya benar, layaknya aku yang meski selalu ada, namun tak membekas -sepertinya- padamu. aku hanya teman, teman biasa yang tak patut dirindukan pertemuannya. tapi kau, kau memang jauh dari sempurna, tapi membekas. sadar, aku sadar, kalau aku yang keterlaluan menganggap semuanya, hingga aku merindukan pertemuan.

ya, keadaan ini, yang dapat menyadarkanku, sedikit demi sedikit membunuh rasa yang membuncah ingin bertemu. dan aku anggap kau adalah teman terbaikku, teman yang membekas, tapi tak boleh aku rindukan pertemuannya, karena kita hanya teman saja! teman sepermainan, anggap saja begitu!

Bukan, Bukan aku! bukan aku, raga ini yang bergejolak, tapi hati.
Perasaan ini yang menggoyah, aku selalu berperang dengan perasaanku.

Bukan, Bukan aku! yang berteriak marah, karena tak kunjung bertemu, tapi perasaan rindu ini.
Hingga aku tahu kau akan berangkat menjemput mimpimu! lima hari lagi.

Bukan, Bukan aku! tapi seluruh yang ada di dalam 'aku' merindukan pertemuan.

Entahlah Apa Judulnya


Hebat! Kamu berhasil membuatku iri, apa yang kamu peroleh adalah sebagian dari mimpiku yang baru saja aku rangkai, yah baru saja. Dan kamu yang membuat mimpiku memang benar-benar bukan hanya sekedar mimpi. Kamu mendapatkan sebagian dari mimpi itu.
Hari itu aku merangkak menggapai mimpi itu, menggapai-gapai yang masih jauh. Lututku terluka karena jalannya yang tak mulus, tanganku tergores lantaran terkadang mengangkat tangan satunya untuk menggapai, tak jarang aku terjatuh tengkurap. Tapi aku bangkit lagi berusaha untuk merangakak lagi. Terjatuh lagi, merangkak lagi....
Lalu aku mencoba untuk bangun lebih dari merangkak, tapi tetap saja berkali-kali aku terjatuh, jatuh yang membuat aku luka di dagu luka di tangan, luka dimana-mana. Hingga kamu datang menghampiriku memberikan tangan untuk bisa membuat aku berdiri. Kamu berbeda denganku, kamu saat itu berdiri bukan merangkak lagi.
Kamu menuntunku perlahan-lahan, senyummu yang ramah membuat aku yakin akan mimpi itu, karena aku melihatmu, kamu sudah berjalan menjemput mimpi itu. Hingga kamu sampai pada sesuatu yang membuatku iri. Kamu sudah menggapai satu serpihan dari mimpi itu, sedang aku belum sama sekali.
Aku masih ada di zaman klasik yang masih bertanya-tanya akan banyak hal, memperbaiki semuanya. Sedang kamu sudah ada di zaman pertengahan, sudah mencoba untuk merangkai semuanya mendapatkan eksistensi. Salut! Kamu mencoba untuk menjemputku kembali ke zama klasik itu, memberi jawaban akan pertanyaanku.
Dan saat ini, kamu membuat iri kedua kalinya.
Aku tahu, kamu hebat, kamu benar-benar hebat!
Beri tahu aku perbedaan antara aku dan kamu, perbedaan itu yang memang ada dan membuat kita berbeda dalam menggapai mimpi yang sama, agar aku yakin aku benar-benar tidak punya itu dan harus menggenggamnya dahulu sebelum aku mendapatkan sepertimu.
Satu hal yang harus kamu ketahui.
Aku, aku yang selalu begini, selalu mendramatisir semuanya.
Aku tahu itu, tapi aku tak bisa keluar dari kebiasaan itu.
Beri tahu aku caranya keluar!
Aku, aku yang selalu begitu, mengagungkan semuanya.
Aku tahu, tapi aku tak bisa untuk mecegah perasaan itu.
Beri tahu aku cara menghilangkannya.
Aku, aku yang selalu seperti itu, entahlah apalagi.
Perasaan yang terjadi ini sulit aku jelaskan.
Mungkin karena aku membuat semuanya berlebihan.
Dan aku....
Manusia Pengecut dan penakut.

Ceritaku "Yang Lalu"

seketika aku meningatmu seketika itu juga aku ingin bersamamu, menuai lembaran-lembaran baru, mengukir aksara dengan paham yang beda lalu tersenyum bersama, oh tidak! kadang kita meneteskan air mata bersama. Yah begitulah kau dan aku, aku tahu tentang apa yang kau rasakan, begitupun kamu. Tapi kita sulit untuk jujur tentang ini, lebih nyaman mengutuk diri kita sendiri dan mencoba untuk mendamaikan keadaan seakan-akan tak terjadi apa-apa.
Pada akhirnya kita melepaskan semua perlahan, bukan dari aku, tapi kamu, hingga benar-benar terlepas, semuanya! Namun aku tetap menganggap dirimu sebagai apa yang aku anggap dulu, tetap sama tak ada yang berubah, hanya keadaan yang berubah, tak lagi seperti sedia kala, hilang perlahan.

Apa ada sisa? Ya.. serpihan itu masih ada, sampai sekarang.


_[][][][][]_
Like us on Facebook
Follow Me on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS