Hari itu, aku berniat pulang ke
rumah mendadak, karena aku lupa kalau sekarang tujuh harinya nenekku, nenekku
pergi hari jumat lalu, terakhir aku bicara dengan nenekku saat aku pulang satu
bulan yang lalu melepas kangen intinya. Aku sedih banget belum minta maaf
kepada nenekku, padahal aku banyak salah kepada beliau, pernah membentak karena
kesal, huaaaaaaaaa jadi inget nenek. –sebenter dulu, meu ngambil tisu- oke
lanjuuuuuut.
Nah cerita menarik ini berawal dari
aku naik bus kota jurusan pelabuhan ujung, aku mau pulang ke desa, desa yang
pastinya beda dengan kota, banyak anak main di depan halaman, ibu-ibu ngerumpi
di sore hari, ada yang nyapu halaman, kebanyakan di depan rumah ada lahan yang
luas, biasanya untuk acra-acra besar jadi enak gag menghalang gang kayak di
kota-kota, kebayang gag gimana sangat desanya aku? Pasti jadul amat.
Di depan Tunjungan Plaza ada
penumpang dua orang naik, dan mereka duduk disebelahku.ternyta mereka habis
belanja. Terpaksa aku mendengar obrolan mera yang pakek bahasa indonesia,
tingginya sama tapi aku bisa membedakan mana yang tua mana yang muda dari
wajahnya, mereka sama-sama cantik tapi kalau ditawarin pasti aku milih yang
muda, hehehehe ngarep dikit gag papa kan
Ternyata dugaan saya benar, yang
saya anggap muda manggil mama, mereka bica pakek bahasa indonesia ke
jawa-jawaan, langsung aku ambil kesimpulan kalau mereka orang jawa. Pembicaraan
mereka meliputi jalan-jalannya tadi, rencana mau ke Malang, tiba-tiba aku
membeyangkan kalau aku ikut ke malang terus aku duduk bareng yang muda
(selanjutnya sebut saja mawar J)
pasti enak banget, bodynya yang agak berisi gemuknya dikit, kulitnya mulus,
meskipun aku gag ngeraba tapi liat aja aku udah tau. Terus gandengan ma mawar
di mobil, jalan-jalan berdua. Tampilannya modis banget.
Tiba-tiba dia ngelirik aku, aku lrik
juga, daaaaaaaaaannn mata kita saling bertatapan, wiisssshhh dia tersenyum
padaku, aku balas senyumnya dan dia memegang
tanganku.
Ciiiiiiitttt.... tiba-tiba pak sopir
ng-rem mendadak... ah,,, ternyata aku Cuma ngebayangin....
Lanjuuuuutttt
Di Bus itu banyak orang dari madura
juga banyk dari jawa, nah kalau di bus itu ada orang maduranya pasti rame,
bicara gag peduli siapa-siapa berhubung aku langganan dengan kejadian itu yahhh
saya cuek lah, meskipun aku orang madura juga.
Mawar risih dengan hal itu, rame
katanya, mengganggu saja tapi, dia sama mamanya tetap saja bercerita dengan
bahasa indo-jawanya.
Busnya udah putar balik, ternyata
penumpang udah turun semua tinggal aku, si cantik mawar dan mamanya yang gag
kalah cantik dan modis duduk dipaling belakang,, uhuuuuyyy duduk sama orang
cantik euy.. jarang-jarang kayak gini nih.
Di tengah-tengah percakapan mereka.
“Ayooo pas molee,” kata mawar yang
modis cantik berpenampilan metropolitan banget, sambil tertawa
Terjemahannya adalaaaaaahhh
“Ayoooo pulang”
Sontak aku kaget, ternyata si mawar
dan mamanya orang madura juga, pantesan mereka gag turun-turun ternyata
tujuannya sama, Pelabuhan.
Hah... dapat ditarik kesimpulan
bahwa mereka berdua adalah orang yang gengsi, merasa malu karena mereka
berpenampilan metropolitan dan malu berbahasa madura di kota besar ini.
Yaaaaah maklum pakaian modis masak
mau berbahasa madura, kira-kira begitu.
Inilah yang harus kita hindari,
ketidak cintaan terhadap bahasa daerah membuat bahasa daerah kita lambat laun
akan punah.
Salah satu contoh yang telah terjadi
di Papua, ada disan sec=buah desa yang mana, bahasa daerahnya sudah punah,
hanya dua orang yang mengerti dan parahnya lagi dua orang tersebut tidak tau
bahasa yang lain selain bahasa itu.
Untuk anak muda
MARI KITA MELESTARIAKAN BUDAYA,
RAGAM SENI, BAHASA DLL YANG MENYANGKUT IDENTITAS BANGSA INDONESIA
* teriak
Jadi kita gag usah malu-malu dengan
identitas kita.
MERDEKA!
* Uhuk uhukkk
Aduuuuhhh udah dulu yaaaa
Aku batuk niii
SEKIAN





0 komentar:
Posting Komentar