Sore ini, entah kenapa aku iri dengan mereka yang naik Dokar, ahh bikin aku mengingat masa lalu saja, ditambah keluargaku yang kecil-kecil naik Dokar jugaaa... ah.. daripada aku iri mendingan aku jeprat jepret tuh dokar.
Salah satu tradisi di desaku, setelah shalat ied
dan silaturrahmi, naik dokar bersama teman-teman atau keluarga. Anak-anak, tua,
muda, semua ada.
Juga para pemudik yang mudik ke desaku, tidak
hanya keliling satu atau dua kali, sampai tiga kali. Yaaa triadisi ini sudah
ada dari dulu. Kalau katanya orang yang aku tanyakan bilang seperti ini “mulai
kamu lahir dokar-dokaran sudah ada”
Kalau dulu, tarifnya dihitung per-kepala sekarang
dihitung per-Dokar. Karena peminat Dokar semakin banyak maka harga yang
dihitung per-Dokar bisa dibilang mahal,bisa-bisa per-kepala membayar 10.000.
normalnya dulu paling mahal untuk anak-anak 5000. Tapi sekarang tidak pandang umur.
Pembayaran, masing-masing kepala bayar berapa diuryus penumpang, supir
dokar terima beres.
Sore hari adalah waktu yang paling ramai, karena kesempatan mendapatkan dokar sedikit.
Tradisi ini sampai 7 syawal. Tapi 7 syawal
sekarang sudah jarang dokar yang lalu lalang, karena wisata Pantai Rongkang
banyak didatangi pengunjung, jadi sepanjang jalan Raya desa kami macet tidak
tertolong, mulai pagi hari hingga isyak tiba.







0 komentar:
Posting Komentar