Lama sekali Rama tidak menulis satu
katapun, lama sekali Rama tidak menyusun kalimat, lama sekali Rama tidak
menulis Cerpen, Lama sekali Rama Tidak melihat Cerpennya di Koran, lebih
tepatnya Rama tidak melihat koran sama sekali, lama.
“Aku dimana?”
“Kamu di tempat yang kamu benci.”
Ruangan kecil berpoles putih, hanya
ada kasur, meja dan kursi dak selang yang melilitnya, pasti anda tahu dimana
itu.
Rama hanya terbaring di ranjang
sepanjang musim ini, tak sadar hanya tiga hari saja.
“Aaaaaaaaaa... aku ingin pulaaaang”
“Untuk apa? Kau belum pulih!”
“Kalau menunggu aku pulih, kapan aku
menulis cerpen lagi? Namaku tidak ada di koran nantinya dan aku tidak mau itu
terjadi.”
“Tulis saja sekarang! Tak usah
pulang!”
“Beri aku kertas dan bolpoin!”
“Ini!”
Rama diam, tangannya masih
bergerak-gerak kaku, ingin mengambil kertas dan pena yang ada di genggaman
orang sebelahnya.
Mereka berdua diam.
Orang disebelahnya juga diam, lalu
dia tersenyum, sedikit menunduk mendekat ke wajah Rama, rambut panjang yang terurai
menyentuh lebih dulu.
“Kau masih belum sembuh, sayang!”
“Kau siapa?”
“Aku? Aku Cerpenmu, yang berusaha
menjadi Cerita panjangmu.”
“Kau Siapa?”
“Aku? Aku perawat!”
“Kau Siapa?”
“Aku Penunggu!”
“Cukup!”
Rama Linglung dengan ini. Lalu dia
bangkit dari tempat tidurnya.
O! Dia tidak berdaya!
O! Dia tidak bisa bergerak sama
sekali!
“Aku sakit apa?”
“Kau masih belum sembuh, sayang!”
“Oke, aku belum sembuh, tapi aku
sakit apa?”
“Oke aku ceritakan, tiga hari yang
lalu kau menulis cerpen pesanan, kau tak menghubungiku selama seminggu karena
tiga cerpen itu. Sore hari tiba-tiba kau menghubungiku lalu memintaku untuk
mengantarkanmu ketempat kau bertemu dengan orang yang memesan cerpen itu. Aku
mau. Kurang apa aku? Tapi kurang satengah jam saja, kau memakiku, alu keluar
dari mobilku, kau tidak sabar, aku lihat kau berlari. Dan kau tahu, tiga cerpen
itu kau tinggalkan di dalam mobilku. Linglung, Tak sabar, dan Tanya.
Itukan judul-judulnya?”
Rama Mengangguk.
“Terus kau tertabrak mobil, darah
banyak yang keluar dari tubuhmu, makanya aku bawa ke rumah sakit.”
“Terus orang yang menabrak?”
“Kabur! Pun aku tak peduli, aku
sibuk memikirkan nasibmu, sedang kamu sibuk memikirkan cerpenmu yang
jelas-jelas ada di dalam mobilku.”
“Mana cerpenku?”
“HILANG!” teriak orang yang berkaos
putih dengan dandanan yang begitu memikat, bibir merah dan polesan bedak di
wajahnya.“Dasar tak tau diri!” Wajah cantiknya hilang ketika dia mengamuk.
Orang kurus, berisi dan tinggi itu
keluar dari kamar berbau obat. Ya, meskipun diluar juga begitu.
Rama mengingat-ingat tiga cerita
cerpen itu.
Tiba-tiba dia linglung dengan
cerpennya, bingung ceritanya, semua ceroita yang dia tulis, mendapatkan
pertanyaan yang membuat dia tak sabar dengan segalanya ‘apa cerita cerpenku’.
Bibirnya bergetar, merasa getir dengan yang ada, hening dalam pedih, sunyi
dalam sedih. Dia diam begitu lama.
Bibirnya semakin bergetar, matanya
memerah.
“Aaaaaaaaa...” Rama berteriak.
Tiba-tiba dia ingat semua cerita
dalam cerpennya. Linglungnya tentang orang yang tidak tahu diri, lalu
menghadapi hidup yang keras, dia linglung tidak betah dengan hidupnya, Tak
Sabarnya tentang berbagai macam manusia yang tidak sabar dengan takdir yang
tidak sesuai kemauan mereka dan kehamilan yang bukan waktunya karena ketidak
sabaran pula, Tanyanya tentang Hidup yang begitu tidak jelas adaanya
karena manusia dengan nafsunya lau selalu bertanya dengan segala sesuatunya,
sampai pertanyaan bodohpun ‘mengapa aku?’
“Iya, betul” tiba-tiba orang yang
memanggil Rama ‘sayang’ masuk. “Cerita itu benar, dan kau kerasukan ceritamu,
dengan segala pertanyaan dari ketidak sabaranmu, yang berasal dari kau yang
linglung karena cerpen Linglung, Tak sabar dan Tanyamu.”
“Aaaaaaaaa....”
@hhimam_





0 komentar:
Posting Komentar