Aku

Han, Lelaki di semua masa dan peristiwa Erlita

Thank's

Terima Kasih atas kunjungannya, salam Kenal! :)
Home » , » Linglung.

Linglung.



Lama sekali Rama tidak menulis satu katapun, lama sekali Rama tidak menyusun kalimat, lama sekali Rama tidak menulis Cerpen, Lama sekali Rama Tidak melihat Cerpennya di Koran, lebih tepatnya Rama tidak melihat koran sama sekali, lama.
“Aku dimana?”
“Kamu di tempat yang kamu benci.”
Ruangan kecil berpoles putih, hanya ada kasur, meja dan kursi dak selang yang melilitnya, pasti anda tahu dimana itu.
Rama hanya terbaring di ranjang sepanjang musim ini, tak sadar hanya tiga hari saja.
“Aaaaaaaaaa... aku ingin pulaaaang”
“Untuk apa? Kau belum pulih!”
“Kalau menunggu aku pulih, kapan aku menulis cerpen lagi? Namaku tidak ada di koran nantinya dan aku tidak mau itu terjadi.”
“Tulis saja sekarang! Tak usah pulang!”
“Beri aku kertas dan bolpoin!”
“Ini!”
Rama diam, tangannya masih bergerak-gerak kaku, ingin mengambil kertas dan pena yang ada di genggaman orang sebelahnya.
Mereka berdua diam.
Orang disebelahnya juga diam, lalu dia tersenyum, sedikit menunduk mendekat ke wajah Rama, rambut panjang yang terurai menyentuh lebih dulu.
“Kau masih belum sembuh, sayang!”
“Kau siapa?”
“Aku? Aku Cerpenmu, yang berusaha menjadi Cerita panjangmu.”
“Kau Siapa?”
“Aku? Aku perawat!”
“Kau Siapa?”
“Aku Penunggu!”
“Cukup!”
Rama Linglung dengan ini. Lalu dia bangkit dari tempat tidurnya.
O! Dia tidak berdaya!
O! Dia tidak bisa bergerak sama sekali!
“Aku sakit apa?”
“Kau masih belum sembuh, sayang!”
“Oke, aku belum sembuh, tapi aku sakit apa?”
“Oke aku ceritakan, tiga hari yang lalu kau menulis cerpen pesanan, kau tak menghubungiku selama seminggu karena tiga cerpen itu. Sore hari tiba-tiba kau menghubungiku lalu memintaku untuk mengantarkanmu ketempat kau bertemu dengan orang yang memesan cerpen itu. Aku mau. Kurang apa aku? Tapi kurang satengah jam saja, kau memakiku, alu keluar dari mobilku, kau tidak sabar, aku lihat kau berlari. Dan kau tahu, tiga cerpen itu kau tinggalkan di dalam mobilku. Linglung, Tak sabar, dan Tanya. Itukan judul-judulnya?”
Rama Mengangguk.
“Terus kau tertabrak mobil, darah banyak yang keluar dari tubuhmu, makanya aku bawa ke rumah sakit.”
“Terus orang yang menabrak?”
“Kabur! Pun aku tak peduli, aku sibuk memikirkan nasibmu, sedang kamu sibuk memikirkan cerpenmu yang jelas-jelas ada di dalam mobilku.”
“Mana cerpenku?”
“HILANG!” teriak orang yang berkaos putih dengan dandanan yang begitu memikat, bibir merah dan polesan bedak di wajahnya.“Dasar tak tau diri!” Wajah cantiknya hilang ketika dia mengamuk.
Orang kurus, berisi dan tinggi itu keluar dari kamar berbau obat. Ya, meskipun diluar juga begitu.
Rama mengingat-ingat tiga cerita cerpen itu.
Tiba-tiba dia linglung dengan cerpennya, bingung ceritanya, semua ceroita yang dia tulis, mendapatkan pertanyaan yang membuat dia tak sabar dengan segalanya ‘apa cerita cerpenku’. Bibirnya bergetar, merasa getir dengan yang ada, hening dalam pedih, sunyi dalam sedih. Dia diam begitu lama.
Bibirnya semakin bergetar, matanya memerah.
“Aaaaaaaaa...” Rama berteriak.
Tiba-tiba dia ingat semua cerita dalam cerpennya. Linglungnya tentang orang yang tidak tahu diri, lalu menghadapi hidup yang keras, dia linglung tidak betah dengan hidupnya, Tak Sabarnya tentang berbagai macam manusia yang tidak sabar dengan takdir yang tidak sesuai kemauan mereka dan kehamilan yang bukan waktunya karena ketidak sabaran pula, Tanyanya tentang Hidup yang begitu tidak jelas adaanya karena manusia dengan nafsunya lau selalu bertanya dengan segala sesuatunya, sampai pertanyaan bodohpun ‘mengapa aku?’
“Iya, betul” tiba-tiba orang yang memanggil Rama ‘sayang’ masuk. “Cerita itu benar, dan kau kerasukan ceritamu, dengan segala pertanyaan dari ketidak sabaranmu, yang berasal dari kau yang linglung karena cerpen Linglung, Tak sabar dan Tanyamu.”
“Aaaaaaaaa....”

@hhimam_

0 komentar:

Posting Komentar

Like us on Facebook
Follow Me on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS