Benderang dan
hiruk-pikuk memenuhi jalanan, dari senja hingga setengah perjalanannya masih dianggap
sore oleh mereka, begitulah selalu cerita kisah kota. Hujan deras lebih rajin
daripada rintik-rintik, malam menjadi tak seperti biasanya, Sabtu tak lagi
menjadi malam yang panjang, taman bukan lagi tempat melukiskan cerita cinta. malah
banyak memilih mendekam di kamar.
Aku terlentang seenaknya
sendirian memandang langit-langit, kosong. Berkisah dengan diri, cerita tentang
sendiri, bukan kesendirian. Hujan semakin deras, aku semakin kadinginan. Hah!
Menyebalkan. Liburan yang tertindas, malam minggu terasa lekas. Akupun
bergagau-gagau tak menerima ini semua, lalu aku diam sejenak meraba jendela
merasakan dinginnya, memandang bulir-bulir merayap tak bertuju.
Sepi, tidak ada
siapa-siapa di luar. Aku merasakan dinginnya hujan, membayangkan betapa
asyiknya bermain hujan, mandi hujan. Aku putuskan keluar dengan pakaian kaos
dan celan pendek.
Aku bingung,
kemana aku harus pergi? Kemana aku harus bermain dengan hujan? Harus kemana aku
menikmati hujan? Pertanyaan mendemoku. Pertanyaan itu membuatku ragu dan ingin masuk
ke kamar lagi.
“Hey Ray... Mandi hujan juga?” Tanya Han yang sedang melawati
gangku.
“Iyaaa,” teriakku.
“Ayooo bareng, aku sendirian,” balasnya teriak juga, karena hujan
deras jadi kita harus teriak.
Aku segera menghampirinya. “Kita akan pergi kemana?” Tanyaku.
“Sudahlah, ikuti aku... Aku akan tepati janjiku yang dulu,” Jawabnya
sembari mengusap wajahnya.
“Janji apa? Yang mana?” Tanyaku penasaran.
“Ayooo ojo akeh takon[1],”
timpalnya.
“Buat apa kantong plastik itu? Boleh aku lihat?” Tanyaku.
“Kita buka disana saja,” jawabnya.
***
“Han, mungkin kau sudah mengerti maksudku, tapi biarkan aku
menyasali sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang bahagia,” kataku memulai
“Maksudmu?”
“Ketika sebilah pisau yang tajam menancap meleburkan rasa dianggap
benar olehku dan membiarkannya”
“Lalu?”
“Biarkan aku bahagia ketika kau ingin mendengar degub jantungku dan
hatiku berkata hanya kamu.”
Dia sontak menoleh, kaget!
Aku hanya menunduk, dan Han berdiri di depanku.
“Kau perlu toreh ceritamu di penghujung dengannya, dan kemari kapadaku,
benahi hati busukku,” jawabnya dengan tenang, lalu pergi.
Aku berdiri,
diam, tak mampu tuk berucap, Han sudah hilang di balik kendaraan. Aku masih
berdiri, kejadian ini aku tulis dengan batu yang agak basar, di tempat duduk di
belakang bacaan “Taman Bungkul”.
“Cerita kita di mulai.”
***
Dua hari aku
tak bertemu dengan Han di kampus maupun di luar kampus. Aku tanya kepada
teman-temannya mareka menjawab dengan simpel “tadi ada kok.”, “Tadi bareng aku,
tapi nggak tau sekarang dimana?”
Hah! Bukan
hanya sebilah pisau yang tertusuk lagi, yang terhujam adalah belahan pedang.
Luka aku, luka perasaanku, karena aku sendiri. Aku menusuk diriku sendiri.
Aku kirim pesan
singkat, tak ada balasan. Aku hubungi dia, sibuk. Aku memutuskan kembali ke kos
saja. Tepat di gerbang kampus, aku melihat Han menyeberang dengan sepeda
motornya, aku kejar, aku kebut laju sepeda motorku. Han berhenti di Restoran,
berdempetan dengan gedung tinggi, lapangan basket tempat event NBA pertama
di Indonesia digelar.
“Haaan,” teriakku sebelum dia masuk ke restoran, tapi Han tidak
mendengar.
Aku langsung
masuk ke restoran itu. dia duduk di meja pojok dekat dengan jendela.
“Hai, boleh duduk,” kataku menghampirinya
“Oh, silahkan,” katanya dingin.
“Han, maafkan aku. Sudah, jangan dipikirkan apa yang terjadi
kemarin, jangan jadikan itu beban, karena bukan kebahgiaan yang aku rasakan,
namun luka yang bersemi bila kau begini.”
“Iya,” jawabnya ketus.
***
“Ray, kesini aku punya cerita,” Han memanggilku di depan
perpustakaan.
Aku melangkah menuju dia.
“Hari ini masih ada jam?” Tanyanya.
“Nggak ada.”
“Ikut aku yuk...!” Ajaknya
“Kemana?”
“Melu opo ora?[2]”
Tanya kembali, dengan logat jawanya
Terlalu lama aku menanyakan hal itu, aku iya kan saja.
Kita berangkat,
aku berada di belakangnya, kita mengendarai sepeda masing-masing. Aku masih
bertanya-tanya, mau kemana, dia terus lurus mengikuti jalan, tidak belok kanan,
juga tidak belok kiri. Tepat di pertigaan Kebun Binatang Surabaya dia tetap
lurus. Hey... jangan sampai dia berhenti ke Taman Bungkul. Ah, kejadian itu
kembali akan mengawang di atas kepala. Dia berhenti tepat di depan dimana aku
menulis cerita itu.
“Yuk... kita duduk-duduk disini, aku mau cerita sesuatu,” katanya,
tersenyum seakan tak tau apa yang aku rasakan.
“Disini?” Tanyaku meyakinkan
“Iya... Disini, kenapa?” Tanyanya heran “Oh... masalah itu, katamu jangan
dipikirkan dan jangan dijadikan beban, itu katakamu lho, bukan kata saya”
Speechless
Dia memegang
tanganku, menyeret menuju tempat duduk, tidak terlalu ramai seperti biasanya. Tanpa
aku tanya setelah kita duduk bersama, dia sudah panjang lebar mencaritakan
masalahnya. lalu dia diam.
“Satu lagi, ada orang yang menyatakan cinta padaku,” katanya
memulai lagi, tertunduk.
Wajah yang ceria tadi hilang, morosot ke bawah, cemberut.
“Siapa?” Tanyaku, tanpa pikir.
“Tak perlu tau,” katanya singkat.
“Apa yang dimaksud dia adalah aku? Atau orang lain. Kalau memang
aku mengapa dia menceritakan padaku,” gumamku.
“Tak perlu risau, rasa cinta itu ada ketika kita merasakan
kerinduan dan keinginan untuk bercengkrama dengannya,” jawabku.
Dia mendongakkan kepala dan tersenyum.
“Ayo kita pulang, aku Cuma ingin bercerita tentang itu,” dia
bangkit, langsung menuju sepeda motornya.
“Ayooo, sudah sore,” ajaknya lagi.
“Iya, tunggu sebentar,” jawabku.
Tanpa memikirkan apapun aku menuliskan kata dengan batu tepat di bawah
cerita kemarin.
“Aku membuatnya tersenyum”
“Aku membuatnya tersenyum”
Aku ke utara dia putar balik ke selatan
“Kemana?” teriakku, menanyakan.
“Rawon setan,” jawabnya, tertawa kecil.
Yah, aku tahu
arah tujuannya kemana, karena kami adalah salah satu pelanggan di warung Bu
Lihah. Rawon Setannya yang khas, benar-benar khas Surabaya dengan harga yang
tidak menguras kantong.
***
Malam minggu, cerah.
Jalanan pasti
ramai, tempat nongkrong apa lagi, Taman Bungkul tak diragukan lagi. Malas
kesana bila tak ada teman.
Cerpen sudah,
tugas sudah. Saatnya keluar dari belenggu kos-kosan, aku memutuskan untuk pergi
ke Taman Pelangi di Jl. Ahmad Yani, lumayan dekatlah. Indah, dengan permainan
warna lampu yang dipantulkan ke tiang-tiang yang melengkung seperti ruas daun,
terlihat memukau. Suasananya tak seramai Taman Bungkul. Disini, masih banyak
tempat untuk duduk, dan tidak galau meskipun sendiri.
Hey, ada Han
disana, dia tertunduk, mengapa dia? Langsung aku bergegas mendekatinya.
“Han...” Sapaku.
“Eh, kamu Ray,” jawabnya, seraya mengangkat kepala. Lalu aku duduk
disampingnya.
“Kamu kenapa, Han?”
“Tidak apa-apa,” jawabnya tertunduk lagi.
“Tidak, aku tidak yakin.”
Diam sejenak.
“Jujur, aku masih ada masalah, Ray,” katanya, lirih “Tapi aku
berfikir dua kali untuk bercerita padamu, aku tak ingin teman-temankuku
memikirkan masalahku, cukup aku yang...”
“Apa kamu mampu?” Tanyaku memotong.
“Tidak.”
Air matanya
mulai menumpuk dan tak terbendung lagi, jebol. dia menangis, tapi bibir manisnya
tak mengluarkan suara apa-apa, wajahnya mulai terhalangi oleh rambut
panjangnya. Kuraih tangannya, lalu ku genggam. dia menoleh, pipi chubby-nya
basah oleh air mata.
“Han, tenangkan dirimu, ceritakan semua padaku.” Kataku,
meyakinkan.
Dia terdiam, aku pun juga, tangannya masih ku genggam. Ku berikan
waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya Han bercerita, pelan dan lirih, aku
hanya bisa diam dan mendengarkan.
“Sudah tak perlu kau tanggapi ceritaku ini, yang penting aku sudah
lega, aku sudah tenang, kau yang sebagai tempat curahan racun-racun hidupku,
terimakasih,” nyatanya, dia tersenyum puas, dan menghapus air matanya.
Kita menikamati
yang ada. Bercerita, bercanda tiada ujungnya, indah malam ini, seindah Taman
Pelangi.
Tak lupa aku goreskan kata cerita disini ketika Han sudah pulang
“Menggengam ketenangan”
***
Malam ini rinai
turun. Aku hanya memandang di balik jendela kamar. Kelembutan rinai membuat aku
selalu ingin menatapnya. Yah, tak seperti hujan deras dengan petir yang
menggelegar, menakutkan!
Aku lebih memilih di kamar menikmati lagu-lagu dan membaca anekdot Suroboyoan.
Bahasa jawa memang selalu seru untuk di plesetkan, mengundang tawa.
Rinai sudah
habis jalanan mulai mengering, saatnya untuk mengisi perut yang kosong dan
akibat terguncang anekdot. daerah kawasan kampus memang ramai. Han... Aku
teringat Han, sudah tiga hari aku tak bertemu dengannya, kemana dia? Sepulang
dari membeli makan malam, tanda tanya tentang Han masih melayang. Mengapa aku
memikirkannya?
Ku tuliskan
cerita tentangku bersamanya, mungkin suatu saat akan menjadi kenangan ketika
dia menerima cinta dari orang yang diceritakan kemarin.
Seperti hujan rintik rintik, membasahi bumi satu persatu.
Begitulah hariku, disobek pelan-pela,hingga hancur.
Bodohnya aku, aku masih menerima, dan membenarkan diri sendiri,
kalau ini adalah awal dari perjalanan aku dengannya.
Aku salah. Jasmani merasakan kehambaran saat dia melangkah jauh hilang
Rohani merasa terhunjam, perih.
Hingga aku menemukan lagi, kebahagiaan.
Menemukan lagi cerita-cerita untuk melengkapi Puzzle hidupku.
Kamu, awal dari Puzzle itu.
Pasca Rinai
Ray.
***
“Apa???” Kataku kaget.
Jam sudah
menunjukkan jam 7, hari sudah pagi. Tadi malam aku ketiduran. Ini yang tak
kusuka kala hujan. Hujan mempercepat waktu, termasuk tidurku, karena dinginnya
menggauliku. Aku bergegas mandi dan hei di luar masih hujan.
Ku buka pintu,
mengamati seberapa deras titik-titik air turun, hujan tidak terlalu deras,
ibu-ibu pedagang sayur berjalan masih bisa keluar berjualan, dengan memakai jas
hujan, dan dagangannya ditutupi plastik lebar sebai pelindung. Aku duduk santai
di depan kamar.
“Ray”
Ada yang memanggilku, langsung aku menoleh.
“Ray, ngapain kamu?”
“Eh, Han... gag ada, malas di kamar,” jawabku.
Han? Apa? Yang memanggilku adalah Han? mengapa aku menjwab seperti
itu? Mengapa tidak bertanya kembali? Kemana dia kemarin?
Aku langsung bangkit mengejar Han keluar gang, nihil, dia sudah
jauh.
***
Aku berlari bersama dia, jalanan sepi, hanya warung yang sepi
pembeli yang belum sempat warungnya saja yang ada, penjualnya duduk tak banyak
mengharap pembeli datang di wakru yang seperti ini.
Janji? Janji apa?
Aku masih bingung apa yang dikatakan Han. Aku mengikuti saja. Dia lari
menuju Jalan Raya, menyeberang menuju restoran yang besar itu, melewati lapangan
basket, melewati kampus kita juga. Jauh sampai ke Kantor polisi, ah mau kemana
dia.
“Han, mau kemana?”
“Taman pelangi,” jawabnya.
“Hah! Jauh amat, Han. Kembali saja yuk...”
“Ini penting, Ray.”
“Maksudnya?”
“Makanya ikuti aku,” katanya seraya mengusap wajahnya.
Jarak antara kampusku dan Taman pelangi jauh. Tapi dia terus saja
berlari, jika lelah, dia berjalan, lari lagi, begitu juga aku.
Setibanya di Taman Pelangi, kita duduk bersama.
“Un....”
“sssst,” jari telunjuknya menempel di bibirku.
Aku diam. Beberapa menit kemudian.
“Eee.. Han..”
Lagi, dia melayangkan jarinya di bibirku. Tampaknya dia melarangku
berbicara.
Dia menyilangkan tangannya menggenggam lengannya, menggigil.
“Han...”
“Sssstt...” menoleh tapi menunduk, menggeleng
Aku berdiri
“Han... apa sih maksudnya? Aku tak mengerti, aku suruh diam, kamu
juga diam, sampai hujan berhenti kamu juga belum bicara, apa maksudmu? Sampai
kau mengigil seperti ini,” kataku emosi, rasa penasaranku tak bisa ditahan
lagi.
“Ini janjiku...” Katanya lalu bangkit.
“Ray,” panggilnya dan mengangguk.
“Maksudnya?” tak mengerti dengan anggukannya.
“Iya, aku merasakan kerinduan dan ingin bercengkrama” katanya, lalu
manarik nafas “dan aku ingin mendengar degub jantungmu dan hatimu berkata hanya
aku, karena aku ingin kau bahagia”
“Berarti, kua mengizinkan aku membanahi hati busukmu sebagai
persinggahan hatiku.”
Berpelukan dalam dingin dan sepi.
Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik tadi.
Kaos khas Surabaya, Cak Cuk Kata Kota Kita Surabaya.
Bertuliskan.
“Tersenyum bersama yukk!”
“Tersenyum bersama yukk!”





0 komentar:
Posting Komentar